Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Waspadai Buah Yang Mengandung Bakteri

Written By Unknown on Minggu, 10 Juni 2012 | 10.18

Waspadai Buah Yang Mengandung Bakteri MENCUCI buah-buahan dan sayuran segar dengan air atau cairan pembersih sebelum dikonsumsi atau dimasak merupakan langkah bijaksana guna menghindari kemungkinan keracunan, muntah-muntah atau diare.

Akan tetapi, menurut pendapat para ahli mikroba di Amerika Serikat, prosedur baku tersebut tidaklah efektif lagi dalam membebaskan makanan dari pencemaran bakteri patogen penyebab panyakit.

Seperti yang diungkap dalam pertemuan  American Chemical Society ke-235, peneliti dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyatakan bahwa upaya membersihkan sayur atau buah  — bahkan dengan memakai cairan disinfektan klorin sekalipun — ternyata tidak dapat menjamin buah atau sayur bebas dari bakteri berbahaya.

Riset menunjukkan bahwa berbagai jenis mikroba tertentu penyebab penyakit seringkali mampu menghindar dari pembersih kimia.  Bakteri ini terbilang ¨lihai¨ bersembunyi lalu membuat lubang serta hidup dalam selada, bayam atau jenis sayuran dan buah lainnya. Dengan kata lain, upaya pembersihan sebatas di permukaan saja tidak akan mampu menjangkau bakteri merugikan ini.

Selain itu, mikroba juga dapat mengatur dirinya menjadi sebuah komunitas yang disebut biofilm, yang melapisi buah dan sayuran serta dapat melindungi bakteri dari kerusakan.  Komunitas bakteri seperti ini dapat mewujud menjadi beragam bakteri penyebab infeksi berbahaya seperti Salmonella atau E. coli.

Sebagai salah satu solusi mengatasi masalah ini, para ahli dari USDA merekomendasikan teknik radiasi atau penyinaran sebagai prosedur pengganti yang efektif dalam membunuh bakteri patogen.  Teknik radiasi ini memang masih dalam tahap pembahasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), terutama menyangkut segi keamanan serta dampak jangka panjang.

Ahli mikrobiologi USDA, Brendan A Niemira mengatakan bahwa secara teknis radiasi dilakukan dengan cara menyinari atau mempaparkan makanan ke sebuah sumber reaktor elektron yang kemudian akan menonaktifkan parasit serta menghancurkan patogen atau seranggga dalam makanan.

Ia menyatakan teknik ini dapat mengurangi jumlah penyakit yang disebabkan infeksi dari rantai makanan setiap tahunnya.

¨Ketika bakteri terlindungi, apakah saat mereka berada  dalam daun atau biofilm - mereka  tidak dapat dibunuh dengan mudah.   Ini merupakan riset pertama yang memantau penggunaan radiasi pada bakteri yang diam di dalam ruang terdalam daun atau terselubung dalam sebuah biofilm,¨ terang Niemira.

Untuk melihat bagaimana bakteri patogen merespon berbagai teknik pembersihan, Niemira  dan timnya melakukan percobaan di laboratorium. Mereka menggunakan daun selada dan bayam yang kemudian dikontakkan dengan cairan mengandung bakteri E.coli.

Bakteri ini ditekan sedemikian rupa menggunakan proses perfusi vakum supaya meresap ke dalam daun.  Daun-daun ini lalu dicuci selama tiga menit dengan air, tiga menit dengan cairan kimia, serta proses radiasi.  

Setelah proses pembersihan, daun-daun ini direndam dalam cairan ber-pH netral lalu diangkat dan dihitung kandungan bakterinya.

Hasilnya menunjukkan, pencucian dengan air murni tidak efektif menurunkan kadar patogen baik pada bayam maupun selada.  Pencucian dengan cairan sodium hipoklorit juga tidak menunjukkan penurunan signifikan bakteri E.coli pada daun bayam, meski pencucian ini mengindikasikan penurunan kurang dari 90 persen E.coli pada sampel selada.  

Sementara itu, teknik radiasi ionisasi, secara signifikan mampu mengurangi populasi patogen baik pada bayam maupun daun selada.  Tingkat pembasmian tergantung dari dosis yang diterapkan,  namun pada dosis tertinggi yang diuji cob penurunan bakteri dapat mencapai hingga 99,99 persen pada selada dan 99,99 persen pada bayam.

Para peneliti  juga kemudian melakukan tes dengan menggunakan biofilm untuk melihat seberapa kuat strain Salmonella dan E.coli dapat bertahan dari radiasi.

Biofilm yang mengandung Salmonella cenderung mudah mati akibat terpapar radiasi, sementara biofilm yang terinfeksi E.coli cenderung lebih resisten Waspadai Buah Yang Mengandung Bakteri.
10.18 | 0 komentar | Read More

Atasi Keracunan Makanan Anak

Atasi Keracunan Makanan Anak Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) melakukan razia makanan jajanan di sejumlah sekolah di Provinsi Yogyakarta (DIY) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi lagi kasus keracunan makanan jajanan.
    
"Razia ini kami lakukan di sekolah-sekolah, baik Taman Kanak kanak (TK), SD hingga SMP terutama di sekolah yang tidak memiliki pagar rapat sehingga pedagang dapat berjualan di kompleks sekolahan," kata Kepala Seksi Layanan Informasi Konsumen BPOM, Diah Cahjonowati, Kamis (12/6).

Menurut dia, sasaran operasi itu adalah penjual makanan jajanan produksi sendiri serta makanan kemasan yang banyak dijual di lingkungan sekolah.

"Jenis makanan yang kami razia sebagian adalah makanan olahan sendiri seperti cilok, siomay, makanan yang menggunakan pewarna, goreng-gorengan dan makanan lain serta minuman terutama yang mengandung es dan zat pewarna," katanya.

Makanan kemasan yang dirazia adalah yang tidak mencantumkan komposisi bahan bakunya, tanggal kadaluarsa dan tidak mencantumkan alamat produsen.

"Banyak makanan kemasan yang kami temukan yang tidak mencantumkan komposisi dan bahan baku yang digunakan serta tidak menuliskan tanggal kadaluarsanya. Sebagian memang produksi rumah tangga, tetapi tidak sedikit pula yang tampak seperti kemasan pabrik," katanya.

Ia mengatakan sebagian besar makanan jajanan yang dirazia  mengandung bahan kimia untuk pewarna seperti rodamin B dan metanil yelow serta bahan berbahaya lain yang tidak direkomendasi untuk bahan pembuatan makanan.

"Bahan kimia tersebut jika dikonsumsi dapat mengakibatkan kanker serta penyakit lain," tambahnya.

Diah mengatakan mayoritas makanan jajanan yang dijual di sekolah-sekolah tidak memenuhi proses higienisitas dan berbahaya untuk kesehatan.

"Sebagian besar makanan jajanan diolah dengan tidak bersih dan higienis, masih ditambah lagi makanan itu hanya dipajang di satu tempat besar dan tidak ditutup. Ini yang sering mengakibatkan  keracunan dan diare," katanya Atasi Keracunan Makanan Anak.
10.14 | 0 komentar | Read More

Bahteri Menghantui Jajanan Anak

Bahteri Menghantui Jajanan Anak Jajanan anak-anak sekolah, terutama sekolah dasar, benar-benar memprihatinkan. Sanitasi yang buruk disertai terkontaminasinya jajanan tersebut dengan bakteri mengancam kesehatan anak.

Hasil penelitian pengajar Universitas Atma Jaya Jakarta menunjukkan beberapa jenis minuman yang biasa dibeli para siswa sekolah telah terkontaminasi beberapa bakteri yang membahayakan kesehatan anak. "Kualitas minuman yang dijajakan kepada anak-anak sekolah memprihatinkan, terutama karena telah terkontaminasi," ujar Diana Waturangi, salah satu peneliti saat memaparkan hasil penelitiannya di Universitas Atma Jaya Jakarta, Jumat (25/7).

Penelitian ini dilakukan pada institusi pendidikan di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Setiap wilayah diambil 5 sekolah dasar. Adapun sampel minuman yang diambil antara lain es doger, jus buah, es teh, es jeruk, es milo, dan es batu.

Diana menuturkan, minuman-minuman tersebut umumnya terkontaminasi tiga jenis bakteri yang bisa membahayakan kesehatan anak-anak, yakni escherichia coli, salmonella, dan vibrio cholerae. Salah satu penyakit yang bisa ditimbulkan adalah diare.

Hasil penelitian terebut menunjukkan rendahnya perlindungan kesehatan pada anak-anak. Padahal, menjajakan makanan dan minuman saat bersekolah jadi aktivitas rutin yang biasa dilakukan anak-anak. Ini mengindikasikan besarnya peran jajanan untuk kebutuhan gizi mereka Bahteri Menghantui Jajanan Anak.
10.11 | 0 komentar | Read More

Bakteri Mengintai Didalam ES Batu

Bakteri Mengintai Didalam ES Batu Si Kecil sakit perut gara-gara minum es sirop di sekolah? Ada apa, ya?
ES BALOK dibuat dari air mentah! Berita ini pastinya membuat kita khawatir akan kebiasaan jajan anak. Namun, sebuah perusahaan es balok di kawasan Pulo Gadung yang sempat dihubungi Tabloid Nakita menyanggah berita tersebut.

Mereka mengatakan, tidak semua perusahaan es balok menggunakan air mentah. Mereka sendiri memakai air yang sudah melalui sterilisasi. Hanya saja, memang tidak ada yang bisa menjamin kebersihan es balok selama proses pengangkutan dan penyimpanan-nya. Apalagi sebagian es balok dibuat untuk tujuan pengawetan hasil laut dan mendinginkan minuman dalam kemasan. Itulah sebabnya banyak pedagang minuman menggunakan es yang tidak layak konsumsi.

Sebuah penelitian yang dilakukan Fakultas Teknologi Pangan IPB menunjukkan, es balok yang diambil di sekitar kampus IPB Darmaga, Bogor, 10% di antaranya mengandung bakteri E. coli. Bakteri lain yang juga teridentifikasi pada saat pengujian adalah Enterobacter sp, Enterobacter cloacea, Pseudomonas sp., Citrobacter dan Klebsiella. Namun, dari semua bakteri tersebut, keberadaan bakteri E.coli yang patut diwaspadai.

KIAT AMAN

Sebetulnya, bakteri akan mati bila dipanaskan pada suhu 1000C. Karenanya, air yang akan dipakai untuk membuat es sebaiknya direbus dulu hingga mendidih. Teknik lain untuk mematikan bakteri adalah dengan dibekukan hingga 00C. Namun, tak semua bakteri mati dalam suhu 00C. Tak heran kalau sebagian bakteri pada es balok masih mampu bertahan. Lalu saat es tersebut mencair dalam suhu ruang, bakteri yang ada akan kembali berkembang biak.

Kita hendaknya juga memerhatikan mata rantai es balok dari produsen hingga ke konsumen. Umumnya, es balok dibawa tanpa kemasan yang baik, hanya menggunakan karung goni atau malah tidak dikemas sama sekali. Sangat mungkin selama melalui mata rantai dari produsen ke konsumen, es itu tercemar bakteri E. coli.

Amati pula, banyak restoran atau pedagang minuman menyimpan es baloknya di depot kayu atau seng di pinggir jalan. Kebersihannya tentu tak terjamin.

Untuk amannya, sebaiknya pastikan dulu asal es yang akan dikonsumsi. Bila berasal dari air yang layak dikonsumsi dan penyimpanannya terjaga, berarti es tersebut aman. Jika tidak yakin, pilih saja minuman dalam kemasan yang telah didinginkan tanpa perlu dicampur dengan es batu.

MENGENAL E. COLI

Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri yang hidup di dalam usus manusia. Keberadaannya di luar tubuh manusia menjadi indikator sanitasi makanan dan minuman, apakah pernah tercemar oleh kotoran manusia atau tidak. Keberadaan E. coli dalam air atau makanan juga dianggap memiliki korelasi tinggi dengan ditemukannya bibit penyakit (patogen) pada pangan.

Ada beberapa jenis E. coli yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

1. E. coli Enteropatogenik

Tidak membahayakan pada sebagian orang dewasa tetapi sering kali menyebabkan diare pada bayi. Mungkin ditularkan melalui air yang digunakan untuk mencuci botol. Karenanya, botol susu bayi sebaiknya direbus setelah dicuci untuk mencegah diare.

2. E. coli Enteroinvasif

Cukup membahayakan karena dapat menyebabkan penyakit disentri. Biasanya ditandai dengan tinja yang mengandung darah.

3. E. coli Enterotoksigenik

Banyak menyebabkan diare pada para pelancong (travelers diarrhea). Bakteri ini tidak terlalu membahayakan.

4. E.coli Enterohemoragik

Bakteri yang sangat berbahaya. Dalam penelitian Dewayanti-Hariyadi-et.al, 2001, dinyatakan bakteri ini hidup dalam daging giling mentah. Peneliti lain juga menemukannya pada air limbah rumah potong ayam Bakteri Mengintai Didalam ES Batu.
10.10 | 0 komentar | Read More
Techie Blogger